TEMPO.CO , Jakarta --Menteri Perindustrian Mohammad Soleh Hidayat menyatakan, pemerintah menyambut baik permintaan perusahaan asal Jepan, Nippon Asahan Aluminium untuk mengadakan perundingan dalam kepemilikan PT Indonesia Asahan Alumunium. Pertemuan ini sendiri dinilai lebih positif dibandingkan penyelesaian melalui jalur hukum yaitu pengajuan ke Arbitrase.
"Saya mendapat indikasi nanti mulai Rabu akan diajak berdialog mencari beberapa kemungkinan yang lebih praktis," kata Hidayat saat ditemui di Istana Bogor, Senin, 4 November 2013.
Ia juga menyatakan, hingga saat ini belum ada informasi NAA mengajukan permasalah Inalum ke arbitrase. Menurut Hidayat, Jepang juga tak terlalu yakin untuk menempuh jalur arbitrase yang justru lebih memakan waktu. Meski demikian, pendapat ini tak berarti Indonesia mengabaikan kepastian hukum atas sengketa kepemilikan PT Inalum.
"Bagi kami yang penting kepemilikan, aset dan managemen sudah beralih dan sepenuhnya dipegang oleh Indonesia," kata Hidayat.
Ia juga menyatakan, keputusan NAA untuk menempuh jalur dialog dan belum mengajukan ke Arbitrase kemungkinan adanya pengaruh Pemerintah Jepang. Hal ini berarti membuka kembali opsi dialog antara kedua pihak untuk menempuh jalur yang lebih positif dan singkat.
"Mudah-mudahan di Jakarta, tim perunding kami sudah mulai membahas pertemuan besok itu."
Permasalahan PT Inalum memang belum selesai hingga penetapan pengembalian kepemilikan perusahaan tersebut dari NAA ke Indonesia. Pemerintah sendiri dengan kepemilikan saham hingga 100 persen memastikan perusahaan tersebut akan menjadi Badan Usaha Milik Negara.
Meski aset dan kepemilikan sudah ditransfer, NAA masih mempermasalahan proses tersebut hingga ada wacana membawa ke Arbitrase.
FRANSISCO ROSARIANS
Berita populer:
Terungkap, Ratu Atut Kerap Belanja Keliling Dunia
Masa Remaja Heru dan Sahabat yang Menangkapnya
Soal Belanja Mewah Ratu Atut, Ini Kata Keluarga
Hobi Belanja, Gaji Atut Tahun 2012 Rp 262 Juta
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Pemerintah Sambut Perundingan Inalum dengan Jepang sekarang.
No comments:
Post a Comment