TEMPO.CO , Jakarta - Menjelang pencatatan saham di Bursa Efek New York, manajemen Twitter membuka sejumlah data internal perusahaan.
Saat ini, Twitter masih membukukan akumulasi kerugian sekitar US$ 418,6 juta (sekitar Rp 4,6 triliun). Jumlah ini bakal bertambah menjadi sekitar US$ 748,2 juta (sekitar Rp 8,2 triliun).
Lonjakan ini sebagian berasal dari biaya kompensasi saham. Sejak diluncurkan sekitar tujuh tahun lalu, Twitter telah meraup dana investasi sekitar US$ 1,16 miliar (sekitar Rp 12,8 triliun).
Dan pada penjualan saham perdana nanti, manajemen Twitter berharap bakal meraup dana sekitar US$ 1 (sekitar Rp 11 triliun). Ini berasal dari penjualan para pemegang saham baik investor institusi maupun individual.
Sedangkan untuk membiayai kegiatan perusahaan sendiri, manajemen sedang menjajaki dana talangan sekitar US$ 1 miliar (sekitar Rp 11 triliun).
Dalam pernyataannya ke pengelola bursa, manajemenmengatakan tujuan perusahaan adalah memberdayakan setiap orang untuk membuat dan berbagi ide serta informasi tanpa barriers.
"Pola bisnis dan pendapatan kami bakal selalu mengikuti misi ini sehingga percakapan yang bebas dan global bisa berkembang," demikian tertulis pada dokumen publik itu.
BUSINESS INSIDER | BUDI RIZA
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Twitter Masih Membukukan Rugi Akumulasi 4,6 T sekarang.