Showing posts with label 9 Persen. Show all posts
Showing posts with label 9 Persen. Show all posts

Sunday, February 16, 2014

Elpiji Naik, BI : Target Inflasi Tetap 4,9 Persen

Written By inikangubay; About: Elpiji Naik, BI : Target Inflasi Tetap 4,9 Persen on Sunday, February 16, 2014

www.ubaidillah.net Bisnis hari ini dihimpun dari Elpiji Naik, BI : Target Inflasi Tetap 4,9 Persen

TEMPO.CO , Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa terkait dengan kenaikan harga gas non subsidi 12 kilogram yang naik bertahap mulai 1 Juli 2014 sampai mencapai angka keekonomisan pada 2016, tidak merevisi angka inflasi tahun ini yang telah dipatok Bank Indonesia yaitu 4,9 persen.


Perry mengatakan prediksi inflasi 2014 yang telah ditentukan Bank Indonesia sudah memperhitungkan kenaikan harga elpiji. "Selain kenaikan harga elpiji, BI juga sudah memperhitungkan kenaikan tarif dasar listrik dan nilai tukar rupiah," ujar Perry, 14 Februari 2014. (Baca juga : DPR Minta Pertamina Laporkan Kenaikan Harga Elpiji)


Perry mengatakan dampak kenaikan tarif dasar listrik terhadap laju inflasi 2014 adalah 0,14 persen. Sedangkan dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap inflasi 2014 adalah 0,23 persen. Untuk inflasi Februari 2014, Bank Indonesia telah mematok angka inflasi di 0,6 persen. Untuk inflkasi year on year Bank Indonesia masih mematok di batas atas 8 persen.


PT Pertamina (Persero) berencana menaikkan harga elpiji nonsubsidi atau ukuran 12 kilogram secara bertahap. Kenaikan harga akan dimulai 1 Juli 2014 sebesar Rp 1.000 per kilogram. "Kenaikan harga akan terus bertahap sampai tercapai harga keekonomian pada 2016," kata juru bicara Pertamina, Ali Mundakir, kepada Tempo, Rabu, 12 Februari 2014. (Lihat juga : Harga Elpiji 12 Kg Naik Bertahap Mulai 1 Juli)


Ali mengatakan harga elpiji 12 kilogram pada 1 Juli 2014 naik ketika inflasi sudah turun. "Namun rencana kenaikan pada bulan apa pun pasti akan menimbulkan pro-kontra," ujarnya.


Soal rencana kenaikan tersebut, kata Ali, Pertamina telah melaporkan pada pemerintah. Perusahaan pelat merah tersebut sudah melaporkan hal itu ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Badan Usaha Milik Negara dalam surat resmi tertanggal 15 Januari 2014. (Berita terkait : Elpiji Langka, Ibu Rumah Tangga Demo)


Mulai 1 Juli 2014, harga elpiji 12 kilogram naik Rp 1.000 per kilogram. Setelah 1 Juli 2014, kenaikan bertahap Rp 1.500 per kilogram pada 1 Januari 2015 dan Rp 1.500 per kilogram mulai 1 Juli 2015.


Selanjutnya, pada 1 Januari 2016, harga elpiji akan naik lagi Rp 1.500 per kilogram. Sedangkan pada 1 Juli 2016, elpiji naik Rp 1.500 per kilogram, dan diperkirakan harga elpiji 12 kilogram di tingkat konsumen sudah mencapai Rp 180.000 per tabung.


GALVAN YUDISTIRA | AYU PRIMA SANDI


Terpopuler :

Mengapa Rupiah Menguat Paling Tajam Se-Asia?

Bos Sritex Lukminto Dimakamkan Hari Ini

Bandara Husein Sastranegara Dibuka Lagi Pagi Ini

Agar Tak Kewalahan Kejar Pajak, Buka Data Bank!


Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Elpiji Naik, BI : Target Inflasi Tetap 4,9 Persen sekarang.

Wednesday, November 13, 2013

Bisnis Hotel Asia Tenggara Tumbuh 9,9 Persen

Written By inikangubay; About: Bisnis Hotel Asia Tenggara Tumbuh 9,9 Persen on Wednesday, November 13, 2013

www.ubaidillah.net Bisnis hari ini dihimpun dari Bisnis Hotel Asia Tenggara Tumbuh 9,9 Persen

TEMPO.CO , Jakarta -- Perusahaan konsultan properti swasta terbesar di dunia Cushman & Wakefield menyatakan bahwa tahun ini pertumbuhan bisnis perhotelan akan mencapai 8 persen di kawasan Asia Pasifik. Angka tersebut didasarkan pada jumlah wisatawan yang tahun ini diperkirakan bertambah pada kisaran yang sama.


"Pariwisata di wilayah Asia saat ini berada dalam suatu siklus yang menakjubkan, dipantik oleh efek positif dari peningkatan status ekonomi kawasan serta pesatnya pertumbuhan perjalanan udara yang kian terjangkau," kata Sigrid Zialcita, Managing Director, Research, Cushman & Wakefield di Asia Pasifik dalam keterangantertulis, Kamis 14 November 2013.


Sigrid mencatat, jumlah kunjungan wisatawan di Asia Pasifik tahun lalu adalah 221,5 juta orang. Asia Tenggara memimpin dengan peningkatan kunjungan wisata dari tahun ke tahun sebesar 9,9 persen. Faktor pendorongnya adalah pemerintah di kawasan ini sedang berupaya meningkatkan kapasitas bandara, pelabuhan laut dan jalur kereta api dalam kerangka membangun konektivitas antarkota dan infrastruktur sebagai bagian dari upaya menggenjot sektor pariwisata mereka.


Pada 2012, menurut Sigrid, pasar sebagian besar hotel di seluruh Asia mengalami pertumbuhan positif dalam rasio RevPAR ( Revenue per Available Room atau Pendapatan per Kamar), terkecuali Mumbai dan Kawasan NCR (Nasional Capital Region/Ibu kota), India.


Pasar teratas pertumbuhan RevPAR adalah Bangkok (19,3 persen), Hong Kong (10,1 persen) dan Jakarta (9,8 persen). Posisi mereka diuntungkan dari situasi pertumbuhan tingkat hunian dan kenaikan Tarif Rata-rata Harian (ADR) di wilayah itu.


Sementara pasar yang justru terlihat mengalami penurunan RevPAR adalah Bali (-4.6 persen) , Ho Chi Minh City (-7.0 persen), Mumbai (-15,1 persen) dan wilayah NCR (-21,6 persen). "Hal itu disebabkan pasokan kamar hotel yang cukup besar saat ini," kata Sigrid.


Tahun ini, kinerja hotel di wilayah Asia terlihat bervariasi . Dengan tambahan penyediaan kamar baru yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir ini, terdapat beberapa penurunan harga di sejumlah wilayah , seperti Singapura dan Shanghai . Di sisi lain, beberapa pasar baru berkembang pesat seperti Dhaka, Yangon, Colombo dengan ketersediaan pasar high-end hotel yang terbatas, namun dalam situasi permintaan pariwisata yang tinggi, mereka tengah menikmati pertumbuhan pendapatan yang kuat saat ini.


PINGIT ARIA


Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Bisnis Hotel Asia Tenggara Tumbuh 9,9 Persen sekarang.