TEMPO.CO , Jakarta - Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan, menilai maskapai Lion Air belum maksimal menerapkan manajemen keterlambatan waktu keberangkatan (delay). Padahal, maskapai milik pengusaha Rusdi Kirana ini memiliki banyak pesawat cadangan. "Seharusnya manajemen delay dilakukan secara komprehesif," ujar Bambang ketika dihubungi Tempo, Selasa, 12 November 2013.
Dia mengatakan, salah satu cara menaikkan nilai kinerja ketepatan waktu (on-time performance) sebuah maskapai adalah dengan menambah pesawat cadangan dan membuka hub baru di luar Jakarta. Namun, yang paling penting setiap maskapai harus memperhatikan manajemen delay. Beberapa hal yang diurus dalam manajemen delay antara lain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, manajemen keluar-masuknya barang di bandara, dan pengaturan jadwal penerbangan.
Menurut Bambang, tipe penerbangan multi-leg yang diterapkan Lion untuk mayoritas rute penerbangannya tidak bisa dijadikan alasan sebagai penyebab sering terjadinya delay. Dengan menerapkan sistem multi-leg, maskapai harus memperhitungkan waktu kemungkinan delay. "Seharusnya jika menerapkan sistem multi-leg, maskapai harus mempunyai persiapan yang lebih mengenai jadwal penerbangan," ujar Bambang.
Selain itu, yang tak kalah penting, setiap maskapai juga harus bisa meyakinkan penumpang bahwa delay bakal segera tertangani. Komunikasi dengan pengguna jasa sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan publik kepada maskapai tersebut. "Selama ini komunikasi Lion dengan pelanggan masih kurang," kata Bambang.
Bambang mengungkapkan, hingga Juni 2013 maskapai Lion Air mempunyai rata-rata kinerja ketepatan waktu 75,8 persen atau berada di urutan ke-7 dari sembilan maskapai nasional. Ketepatan waktu tersebut berada di kategori kuning, satu level lagi dari kategori merah bila ketepatan waktu kurang dari 70 persen. Maskapai yang berkinerja bagus memiliki ketepatan waktunya di atas 80 persen.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar dari manajemen Lion tentang pendapat Kementerian Perhubungan.
GALVAN YUDISTIRA
Baca juga:
Konsumen KFC Tak Terpengaruh Isu Zat Berbahaya
JK Tegur Jepang, Inalum Langsung Untung
JK Kritik Pemerintah Lamban Ambil Inalum
DPR MintaTelkomvision Tak Dijual, Dahlan Pasrah
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Lion Air Dinilai Kurang Terapkan Manajemen Delay sekarang.
No comments:
Post a Comment