TEMPO.CO , Tokyo - Ternyata tak cuma mata uang negara berkembang yang melemah akibat rencana penarikan stimulus moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve). Menjelang pertemuan Federal Open Market Comittee (FOMC) The Fed pada 17-18 September 2013, nilai tukar dolar juga keok terhadap euro.
Kantor berita Bloomberg mengabarkan, dalam perdagangan di pasar uang Tokyo, Selasa waktu setempat, 17 September 2013, dolar melemah 0,2 persen menjadi US$ 1,3359 per euro. Sebelumnya, dolar sempat menyentuh US$ 1,3386 per euro atau level terendah sejak 28 Agustus 2013.
Bloomberg U.S. Dollar Index pun menunjukkan penurunan 0,1 persen. Dengan demikian, selama hampir tiga pekan, nilai tukar dolar mengalami penurunan. Menurut pialang Union Bank NA Los Angeles, Kazuo Shirai, melemahnya dolar disebabkan sikap pasif pasar yang menunggu hasil pertemuan FOMC. “Selama keputusan The Fed belum meruncing, dolar akan terus dijual," kata dia seperti dikutip pada Rabu, 18 September 2013.
Pertemuan FOMC kemungkinan membahas rencana pengurangan stimulus moneter dengan cara menurunkan pembelian surat berharga di pasar. Penarikan stimulus kemungkinan dilakukan hingga US$ 85 miliar per bulan. Akibatnya, likuiditas dolar, terutama di negara berkembang, akan berkurang. Isu penarikan stimulus semakin menguat lantaran dalam dua bulan terakhir perekonomian Amerika mengalami penguatan.
FERY FIRMANSYAH
Baca Juga:
Ke Indonesia, Ini Agenda Pangeran Andrew
SBY Resmikan Pabrik Ban Hankook di Cikarang
Garuda Indonesia Merugi Selama KTT APEC Digelar
Garuda Indonesia Tunggu Kepastian Bandara Halim
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Sentimen The Fed Juga Melemahkan Dolar sekarang.
No comments:
Post a Comment