Monday, September 30, 2013

Sistem Drainase Redam Kebakaran Lahan Gambut

Written By inikangubay; About: Sistem Drainase Redam Kebakaran Lahan Gambut on Monday, September 30, 2013

www.ubaidillah.net Teknologi hari ini dihimpun dari Sistem Drainase Redam Kebakaran Lahan Gambut

TEMPO.CO , Jakarta --Pembuatan sistem drainase yang dilengkapi dengan pintu air mampu meredam kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Sistem itu menyelamatkan perkebunan karet seluas lima hektar yang dikelola tim Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah dari kebakaran hebat tahun lalu. Sistem drainase itu juga digunakan untuk mengatur dan menyimpan air di lahan gambut yang biasanya kering saat musim kemarau.


Sistem drainase menjadi benteng air yang mencegah penyebaran api yang biasanya merambat di permukaan tanah. Sementara para penjaga perkebunan menggunakan air dalam kanal untuk memadamkan percikan api dari bara yang melayang. Kanal-kanal tersebut lebarnya sekitar tiga meter dengan kedalaman mencapai empat meter.


"Saat kebakaran itu terjadi hanya perkebunan ini yang selamat sementara di kebun-kebun sekitarnya hangus dilalap api," kata anggota tim BPTP Anang Firmansyah sambil menunjuk lokasi kebakaran yang hanya berjarak 15 meter dari kebun karetnya, Kamis (26/9). Kanal-kanal itu terbukti efektif mencegah api merambat ke kebun karet. "Kami mengawasi potensi kebakaran tajuk pohon, tapi tidak masalah karena cadangan air banyak di kanal," kata Anang.


Pada 2005, lahan yang terletak di Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah itu terbakar habis dan mengalami degradasi. BPTP kemudian memulai program perbaikan dengan membuat perkebunan karet dan nanas pada 2010. Perkebunan itu menjadi proyek percontohan dan menjadi bagian program pengendalian emisi karbon yang diusung lembaga Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF).


Pengaturan air dengan drainase bisa membuat lahan gambut menjadi lebih mampat dan bisa ditanami. Dengan aplikasi pupuk kandang, tingkat keasaman tanah bisa diatur sehingga tanaman seperti karet dan nanas bisa berproduksi. "Lahan gambut di sini sudah bagus, karet bisa disadap, nanas sudah panen dan buahnya bagus dan manis. Yang lebih penting, tingkat kebakaran lahan gambut bisa ditekan," kata Anang.


Kepala Sekretariat ICCTF Syamsidar Thamrin mengatakan bahwa kandungan karbon yang ada dalam lahan gambut sangat tinggi. Perubahan penggunaan lahan gambut, apalagi jika terbakar hebat akan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. "Mengelola lahan gambut dengan baik bisa mencegah kebakaran dan menahan lepasnya karbon ke udara," kata Syamsidar.


Anang menyebutkan bahwa stok karbon dalam lahan gambut berkisar antara 3.300-4.400 ton per hektar. Stok karbon yang disimpan dalam pohon yang tumbuh di lahan gambut biasanya hanya empat ton per hektar. "Tanaman atau batang pohon yang membusuk itu cuma menyimpan 0,5 ton karbon per hektar, jadi bisa dibayangkan efeknya sangat besar jika lahan gambut terbakar," katanya.


Syamsidar mengatakan proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah merespon laporan berbagai organisasi internasional yang menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara ketiga yang menyumbang emisi karbon terbesar di dunia. "Awalnya penasaran, ternyata data mereka tidak lengkap dan random. Jadi yang menyimpulkan hasilnya itu punya daya khayal tingkat tinggi," kata Syamsidar yang juga menjabat Kepala Sub Direktorat Iklim dan Cuaca di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.


ICCTF dan BPTP juga mengelola proyek perkebunan untuk mengendalikan emisi karbon berupa perkebunan kelapa sawit di Riau dan Jambi, pertanian di Kalimantan Barat dan perkebunan sagu di Papua.


GABRIEL TITIYOGA



Terhangat:

Edsus Lekra | Senjata Penembak Polisi | Mobil Murah


Baca juga:

Mahasiswa ITS Rancang Kota Apung

Empat Ponsel Ini Mengancam Posisi Kamera Saku

HTC One Max Akan Diluncurkan Pertengahan Oktober

Tampilan iOS7 Bikin Pusing, Pengguna Protes


Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Sistem Drainase Redam Kebakaran Lahan Gambut sekarang.

No comments:

Post a Comment