TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang masih lemah terhadap dolar Amerika--kemarin di level 11.888--terus memukul pertumbuhan sejumlah industri. Ketua Real Estat Indonesia (REI), Eddy Hussy, mengatakan akibat tekanan rupiah tersebut, penjualan properti turun 10-20 persen. “Tidak bisa diprediksi slowdown ini sampai kapan. Kami berharap segera pulih,” kata Eddy kepada Tempo kemarin.
Dampak dari pelambatan ini, kata Eddy, pertumbuhan rumah pun berkurang. Padahal, backlog atau kekurangan rumah besar sekali. Data Kementerian Perumahan Rakyat menyebutkan, kebutuhan rumah pada tahun ini saja mencapai 15 juta unit. Karena itu, dia berharap pemerintah membuat kebijakan yang dapat membalikkan situasi saat ini.
Dengan menimbang tekanan rupiah tersebut, para pengembang akan menaikkan harga jual rumah. Namun, Eddy memastikan langkah tersebut dilakukan secara hati-hati. Tidak semua tipe bangunan bertambah harganya. Misalnya rumah tapak sederhana untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan.
“Karena bahan baku materialnya berasal dari dalam negeri semua,” katanya. “Jika properti menengah ke atas yang produksinya banyak memakai material impor akan langsung naik,” kata Eddy.
Bila kondisi seperti ini berlangsung lama, kenaikan harga juga terjadi pada produk makanan dan minuman. “Melihat perkembangan rupiah terakhir, pada Januari harga harus dinaikkan,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi S. Lukman.
Menurut dia, depresiasi rupiah otomatis berpengaruh terhadap sektor ini. Pasalnya, pelaku industri kesulitan untuk mengkalkulasi harga pokok berdasarkan basis nilai tukar rupiah. Industri ini memang sangat tergantung terhadap barang impor, terutama yang berbasis terigu dan gula. Adhi mengatakan, pengaruh bahan baku impor tersebut mencapai 50 persen terhadap biaya produksi.
Keluhan atas efek rupiah ini pun disuarakan para pengusaha retail. Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Retail, Tutum Rahanta, menyatakan pihaknya hanya pasrah dengan kenaikan tarif sewa mal. Meski keberatan, menaikkan tarif sewa merupakan hak pengelola.
Karena sewa ini naik, harga jual usaha ritel pun akan mengikutinya, disesuaikan dengan beban usaha, seperti gaji karyawan, biaya sewa tempat, dan ongkos distribusi. Nah, bila tidak kuat menanggung kenaikan sewa, Tutum memprediksi para pengusaha retail akan berpindah tempat.
APRILIANI GITA FITRIA | TRISTIA RISKAWATI | ALI HIDAYAT
Terpopuler:
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Tekanan Rupiah Bikin Industri Melambat sekarang.
No comments:
Post a Comment