Thursday, December 12, 2013

Penambangan Marmer Mulai Rambah Situs Song Gentong

Written By inikangubay; About: Penambangan Marmer Mulai Rambah Situs Song Gentong on Thursday, December 12, 2013

www.ubaidillah.net Teknologi hari ini dihimpun dari Penambangan Marmer Mulai Rambah Situs Song Gentong

Berbagai macam fragmen tulang manusia purba, hewan purba, serta moluska yang ditemukan di Situs Song Gentong dipamerkan di Museum dan Pusat Kajian Etnografi, Universitas Airlangga, Surabaya, Rabu (11/12). Berbagai macam temuan arkeologi dari jaman 5000 tahun sebelum Masehi ini adalah hasil eskavasi selama tiga tahun yang dilakukan oleh mahasiswa Antropologi di Situs Song Gentong, Tulungagung. TEMPO/Fully Syafi




TEMPO.CO , Jakarta -- Situs purba di kawasan bukit marmer Desa Song Gentong, Besole, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur benar-benar memprihatinkan. Aktivitas penambangan batu marmer yang berjalan puluhan tahun nyaris menghancurkan jejak sisa-sisa peradaban manusia tersebut.


Seperti mengacuhkan aktivitas eskavasi yang pernah dilakukan tim arkeolog dari Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta beberapa waktu lalu, para penambang terus menghancurkan tebing marmer di mulut goa. Mereka tak henti menggeorogoti bukit marmer sedikit demi sedikit untuk dijual ke tempat industri. "Penambangan marmer itu sudah tua," kata Andi Sulistiana, pemilik usaha kerajinan marmer di Dusun Cerme, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.


Di kawasan Tulungagung, usaha kerajinan marmer terpusat di dua lokasi, yakni Kecamatan Campurdarat dan Kecamatan Besole. Dari seluruh industri marmer tersebut, PT Industri Marmer Indonesia Tulungagung (IMIT) adalah yang paling tua dan terbesar.


Aktivitas penambangan marmer secara modern di Besole ini telah dimulai sejak tahun 1965, meneruskan penambangan tradisional yang dirintis pemerintah Belanda zaman penjajahan. Para pekerjanya membelah bukit marmer di wilayah itu, yang belakangan diketahui sebagai bekas lokasi hunian manusia purba zaman Neolitikum di Desa Song Gentong.


Meski industri IMIT saat ini telah berhenti, namun aktivitas penambangan tetap dilanjutkan masyarakat setempat. Mereka menekuni profesi ini secara turun temurun dan tidak terlatih melakukan pekerjaan lain.


Terakhir, aktivitas penambangan mereka mulai dikhawatirkan para arkeolog. Hal ini menyusul temuan tim eskavasi dari Unair dan UGM atas sejumlah benda prasejarah di lokasi penambangan seperti ratusan fosil, artefak dan fragmen dari masa prasejarah. Temuan tersebut antara lain meliputi fragmen tulang tibia, gigi landak purba, fragmen gigi binatang pemakan daging, kulit kemiri, mollusca, alat kerang, tulang, batu dan serpihan andesit.


Dari hasil pengujian Laboratorium Arkeologi Forensik Unair serta Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM disimpulkan bahwa usia fosil-fosil itu antara 6.000-8.000 tahun atau seumuran dengan Homo Wajakensis.


Masih menurut Andi, para penambang marmer di Kecamatan Besole saat ini mulai kehabisan sumber daya alam. Akibatnya aktivitas penambangan yang sebelumnya dilakukan cukup jauh dari lokasi situs kini mulai mendekat. Para penambang tak memiliki pilihan lokasi lain yang masih menyisakan bukit marmer. "Kualitas marmer di tempat itu sangat istimewa dibanding daerah lain," tambah Andi.


Gencarnya aktivitas memecah batu ini setidaknya tampak dari mulai rusaknya dinding atas mulut Goa Song Gentong yang menjadi lokasi eskavasi tim arkeolog. Satu per satu bongkahan batu di mulut goa dihancurkan menggunakan peralatan berat demi kelangsungan industri marmer yang menjadi industri andalan Kabupaten Tulungagung.


HARI TRI WASONO



Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Penambangan Marmer Mulai Rambah Situs Song Gentong sekarang.

No comments:

Post a Comment