TEMPO.CO , Jakarta - Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen ternyata hanya sementara mendongkrak posisi rupiah. Di transaksi pasar uang hari ini, rupiah kembali terdepresiasi 57 poin (0.51 persen) ke level 11.232 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat pasar uang dari PT Bank Saudara, Rully Nova, mengatakan penguatan dolar di pasar global kembali membebani rupiah. "Menguatnya posisi dolar menjelang pertemuan bank sentral AS (The Fed) pekan depan membuat rupiah kembali mengalami tekanan."
Mata uang regional kembali tertekan merespons pertemuan The Fed yang kemungkinan akan mengurangi stimulusnya. Hasil konsensus ekonom Reuters menduga The Fed akan mengurangi menyunat dana pembelian obligasi per bulannya sebesar US$ 10-15 miliar.
Menurut Rully, likuiditas dolar di pasar berkembang sangat tergantung dengan stimulus The Fed tersebut. Sehingga, dengan dikuranginya stimulus akan semakin berdampak negatif bagi likuiditas dolar di pasar berkembang. "Seiring membaiknya perekonomian AS, investor asing mulai menarik dananya di pasar berkembang dan melirik AS sebagai tujuan investasi."
Meski demikian, Rully meyakini bahwa daya tarik Indonesia di mata investor asing masih tinggi. Hal itu tercermin dari nilai imbal hasil di pasar obligasi dan pasar saham yang masih menjanjikan dibanding negara-negara tetangga. Apalagi Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga menjadi 7,25 persen.
PDAT | M. AZHAR
Topik Terhangat:
Harmonisasi Vicky | Penembakan Polisi | Tabrakan Anak Ahmad Dhani
Terpopuler
Begini Isi Surat Vicky Prasetyo di Penjara
NASA Temukan 10 Lubang Hitam Raksasa
Mobil Lancer Dul Akan Jadi Monumen
Ini Gaya Hidup Zuckerberg yang Unik
MNC: Final Miss World 2013 di Bali
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Rupiah Kembali Loyo sekarang.
No comments:
Post a Comment