TEMPO.CO , Jakarta - Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Fuad Rahmany, mengakui penerimaan pajak dari sektor ekspor masih lesu. Hal itu disebabkan oleh kondisi perekonomian global yang belum membaik. "Penerimaan pajak dari sektor ekspor belum membaik," kata Fuad di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, 23 September 2013.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan pajak hingga 30 Agustus 2013 mencapai Rp 556,3 triliun dari target penerimaan pajak dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan sebesar Rp 995,213 triliun.
Jika dirinci, realisasi penerimaan dari Pajak Penghasilan Non Migas tercatat sebesar Rp 271,8 triliun atau baru 58,5 persen dari target sebesar Rp 464,5 triliun. Sedangkan penerimaan dari Pajak Penghasilan Migas baru terealisasi sebesar Rp 49,6 triliun atau 66,8 persen dari target sebesar Rp 74,3 triliun.
Sementara realisasi Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah baru terealisasi sebesar Rp 230,1 triliun atau 54,3 persen dari total target Rp 423,7 triliun. Adapun Pajak Bumi dan Bangunan baru terealisasi sebesar Rp 1,6 triliun atau 6 persen dari target Rp 27,3 triliun.
Adapun penerimaan pajak dari pajak lainnya baru terealisasi sebesar Rp 3,2 triliun atau 59,2 persen dari target dalam APBN Perubahan 2013 sebesar Rp5,4 triliun.
Untuk menggenjot penerimaan pajak, Ditjen Pajak juga tengah melakukan ekstensifikasi dengan melakukan pemeriksaan pajak untuk sektor properti. Fuad mengatakan pemeriksaan akan rampung pada Oktober mendatang. "Pokoknya kami akan bekerja keras," ujarnya.
ANGGA SUKMA WIJAYA
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Penerimaan Pajak Ekspor Lesu sekarang.
No comments:
Post a Comment