Seorang petugas teller Bank Negara Indonesia (BNI) merapihkan uang rupiah saat berlangsungnya transaksi, Jakarta, (28/8). Nilai tukar rupiah terus tertekan hingga di posisi Rp 9.535 per dolar AS pada (28/8). Posisi itu melemah dari Rp 9.515 per dolar AS pada (27/8) dan makin tertekan dari posisi Jumat (24/8) di level Rp 9.504 per dolar AS, (23/8) Rp 9.495 per dolar AS, (16/8) Rp 9.498 per dolar AS dan (15/8) Rp 9.494 per dolar AS. Tempo/Aditia Noviansyah
TEMPO.CO , Jakarta - Semakin melebarnya defisit neraca perdagangan serta penguatan dolar di pasar global membuat pergerakan rupiah kian liar.
Di penutupan transaksi pasar uang hari ini, rupiah meroket 421 poin (3,63 persen) ke level 11.175 per dolar Amerika Serikat (AS). Intervensi bank sentral menjelang akhir sesi berhasil meredakan tekanan rupiah yang dalam intraday ditransaksikan di kisaran 11.500 hingga 11.600 per dolar.
Analis dari PT Harvest International Futures, Tonny Mariano, mengatakan adanya intervensi moneter Bank berhasil menyediakan likuiditas dolar di pasar uang. "Namun, dengan situasi pasar yang sedang tidak stabil seperti ini permintaan dolar akan kembali meningkat tajam pekan depan."
Menurut Tonny, meski bank sentral berhasil meredam gejolak rupiah pada sesi penutupan, tetapi BI belum mampu meredakan volatilitas rupiah. Hal itu terlihat dari rentang pergerakan rupiah yang kini sudah mencapai lebih dari 100 basis poin.
Memburuknya data neraca perdagangan masih menjadi sentimen utama yang menyebabkan tingginya permintaan dolar di pasar domestik. Defisit sebesar US$ 2,3 miliar menunjukkan lebih banyak impor yang tentunya membutuhkan lebih banyak dolar. Dari eksternal, posisi dolar yang sedang perkasa di pasar global membuat tekanan mata uang rupiah di dalam negeri meningkat.
Hampir pastinya pengurangan stimulus bank sentral AS (The Fed) membuat investor terus mengoleksi dolar. "Dengan kepastian yang akan diumumkan pertengahan September nanti, potensi pelemahan rupiah hingga ke level 12.000 sepertinya tinggal menunggu waktu," kata Tonny.
Tingginya volatilitas rupiah juga menunjukkan berbagai instrumen moneter seperti kenaikan suku bunga acuan belum mampu menurunkan permintaan dolar. "Ada kesan para pemilik dolar justru semakin gencar mengakumulasi dolar karena targetnya jualnya memang di level 12.000," ungkap Tonny.
Hingga pukul 17.00 WIB, mata uang euro ditransaksikan di US$ 1,3116, pound sterling US$ 1,5567, dan yen 99,69 per dolar AS. Dolar Singapura ditransaksikan di 1,2789 per dolar AS, won 1.092,93 per dolar AS, dolar Hong Kong 7,7558 per dolar AS dan yuan 6,1195 per dolar AS.
PDAT | M. AZHAR
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Intervensi BI Redakan Rupiah sekarang.
No comments:
Post a Comment