Warga memadati pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian saat bazar pakaian murah di Tangerang, Banten, (28/7). Menjelang lebaran warga mulai memburu pakaian untuk sambut hari raya Idul Fitri. TEMPO/Marifka Wahyu hidayat
TEMPO.CO , Jakarta - Analis Investa Sarana Mandiri, Kiswoyo Adi menyatakan, sektor konsumer diprediksi tetap tumbuh di tengah tekanan negatif yang terjadi di pasar. "Kinerja mereka tetap akan on-track," ujarnya saat dihubungi, Sabtu, 14 September 2013.
Menurut Kiswoyo, pertumbuhan di sektor konsumer akan ditopang oleh tingginya permintaan akan barang-barang konsumer. Selain itu, daya beli masyarakat juga tetap terjaga meski inflasi tinggi. "UMR sudah naik duluan, dan kita punya kalangan kelas menengah yang terus bertambah,"katanya.
Menurut dia, pengaruh depresiasi rupiah tidak akan terlalu dirasa oleh emiten konsumer. Sebab, sebagian besar perusahaan tidak terlalu bergantung kepada barang impor. "Kalaupun ada pengaruhnya bisa tertutupi dengan cara mereka menaikkan harga barangnya," ujar Kiswoyo.
Ia melanjutkan, negatifnya pergerakan sektor konsumer di Indeks Harga Saham Gabungan lebih disebabkan oleh sikap wait and see investor akan hasil kinerja penjualan emiten hingga Agustus. Namun, ia menilai emiten sektor konsumer masih akan tetap menjadi incaran. "Akhir bulan ini yang jadi penentu untuk investor," katanya.
Sementara itu, pengamat pasar modal Edwin Sebayang menyatakan kenaikan BI rate berdampak pada beberapa sektor seperti perbankan, properti, infrastruktur, multifinance, dan semen. Untuk perbankan, akan mengalami kesulitan likuiditas. "Terutama untuk bank-bank kecil dan menengah, dan pertarungan mencari bunga akan besar sekali," katanya.
Ia melanjutkan, dengan likuiditas yang melemah maka otomatis akan berpengaruh pada penyaluran kredit perbankan. Sehingga, pendapatan dan laba bersih emiten properti dan infrastruktur yang terbilang ekspansif dalam beberapa tahun belakangan akan cenderung menurun. "Tahun ini kami prediksi penyaluran kredit sekitar 18 persen hingga 20 persen," ujar Edwin.
Kamis lalu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps). Dengan demikian, maka BI rate sudah berada di kisaran 7,25 persen.
RIRIN AGUSTIA
Berita Terpopuler:
Miss Uzbekistan Ternyata Seorang Penipu?
Polisi Periksa Pelapor Casting Online Model Bugil
Tolak Miss World, FPI Akan Menyeberang ke Bali
Lagi, Polisi Ditembak di Depok
Gubernur BI: Jokowi Pengendali Inflasi Terbaik
Korban Tewas Kecelakaan Dul di Jagorawi Jadi 7
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Bunga Naik, Sektor Konsumer Tetap Tumbuh sekarang.
No comments:
Post a Comment