TEMPO.CO , Jakarta - Di tengah ketidakpastian perekonomian global, Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri punya satu resep untuk mendorong perekonomian domestik yakni terus belanja. Chatib mengatakan jurus inilah yang menyelamatkan Indonesia dari krisis 2008.
"Kalau orang bilang hemat pangkal kaya, saya bilang belanja pangkal kaya. Yang menyelamatkan ekonomi dari perlambatan adalah tetap belanja," kata Chatib di Jakarta, Senin, 19 Agustus 2013.
Chatib mengatakan dengan konsumsi yang terus tumbuh, maka perusahaan akan terus beroperasi. Untuk beroperasi, tentunya perusahaan akan menyerap tenaga kerja.
Chatib mengatakan untuk menjaga ketersediaan lapangan kerja, maka pemerintah akan memberikan insentif untuk industri padat karya. Salah satu bentuk insentif yang mungkin diberikan adalah menaikkan penghasilan tidak kena pajak (PTKP).
"Perusahaan yang mengambil insentif ini tidak boleh mem-PHK karyawan supaya daya beli masyarakat terjaga. Kami akan cari mana insentif yang lebih efektif," kata Chatib.
Chatib mengatakan belanja rumah tangga berkontribusi 55 persen terhadap pertumbuhan PDB. Selain itu belanja pemerintah yang berkontribusi 9 persen hingga 10 persen dari PDB juga akan digenjot.
Chatib mengatakan tidak khawatir dengan defisit anggaran yang membengkak akibat penerimaan pajak yang berkurang. Apalagi, menurut Chatib sampai saat ini defisit anggaran baru sekitar 1 persen dari target defisit 2,4 persen.
"Realistis saja, Anda tidak bisa belanja, tapi pajak tidak mau dikorbankan. Nanti uang menumpuk di pemerintah, orang tidak bisa konsumsi, orang tidak bisa apa, fiskal kontraktif, target tidak tercapai. Ironis, di situasi ekonomi kontraktif, defisit anggaran kecil," kata Chatib.
BERNADETTE CHRISTINA
Berita Terpopuler:
Lulung: Saya Meludah Saja Jadi Duit
Gerak-gerik Rudi Sudah Diawasi Sejak Mei
Membandel, Tujuh PKL Tanah Abang Kena Sanksi
Jokowi Dandan Warok Ponorogo Demi Bambang DH
Pemilik Sepeda Motor Penembak Polisi Ditangkap
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Menkeu Chatib Basri: Belanja Pangkal Kaya sekarang.
No comments:
Post a Comment