Wednesday, August 28, 2013

Rupiah Loyo, Rating Industri Migas Masih Aman

Written By inikangubay; About: Rupiah Loyo, Rating Industri Migas Masih Aman on Wednesday, August 28, 2013

www.ubaidillah.net Bisnis hari ini dihimpun dari Rupiah Loyo, Rating Industri Migas Masih Aman

TEMPO.CO , Singapura - Fitch Ratings menyatakan, profil untuk perusahaan-perusahaan minyak dan batubara Indonesia tidak mengalami perubahan meskipun rupiah melemah sebesar 10 persen untuk periode Februari hingga Agustus 2013. "Pemasukan dolar Amerika mereka masih relatif tinggi," kata Direktur Fitch Ratings Singapura, Isabelle Katsumata, melalui pernyataan tertulis yang diterima Tempo pada Kamis, 29 Agustus 2013.


Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia pada Rabu, 28 Agustus 2013, kurs jual rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 11.005 atau menguat 0,6 persen dibanding kurs jual pada 27 Agustus sebesar Rp 10.937 per dolar AS. Untuk kurs beli pada hari yang sama, bertahan pada level yang sama sebesar Rp 10.895 per dolar AS.


Katsumata menyatakan, perusahaan minyak dan gas juga didukung secara fiskal oleh pemerintah untuk menjalankan kewajiban layanan publik. "Selain itu, banyak perusahaan yang memiliki batas jangka pendek untuk utang dolar AS mereka," kata Katsumata.


Katsumata menyebutkan tiga perusahaan yang pendapatannya aman dari pengaruh depresiasi, yakni PT Adari Indonesia (BB+/Stable), PT Indika Energy Tbk. (B+/Stable), dan Star Energy Geothermal (B+/Stable). "Mereka aman dari pengaruh depresiasi karena pendapatannya dalam dolar AS," kata Katsumata. Fitch menilai, kondisi ini menciptakan posisi yang kuat untuk obligasi utang. "Margin profit dari produsen batubara diuntungkan dengan biaya operasi mereka yang menggunakan rupiah," kata dia.


Sementara itu, rating untuk perusahaan-perusahaan milik negara, seperti PT Pertamina Persero (Pertamina, BBB-/Stable) dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN, BBB-/Stable), tidak terkena dampak depresiasi langsung. "Rating untuk perusahaan BUMN disesuaikan dengan negara Indonesia (BBB-/Stable)," kata Katsumata.


PLN dan Pertamina menjalankan layanan publik dengan menjual harga bahan bakar dan biaya listrik di bawah harga pasar dengan kompensasi yang diberikan melalui mekanisme reimburse. "Pelemahan rupiah meningkatkan biaya operasional kedua BUMN ini untuk bahan baku seperti batubara, gas, dan minyak," kata Katsumata. Dengan demikian, kebutuhan subsidi juga meningkat.


Adapun pendapatan dan biaya pengadaan gas dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN, BBB-/Stable) juga didominasi oleh dolar AS. "Dengan demikian dampak depresiasi terhadap perusahaan ini netral," kata Katsumata. Utang PGN yang senilai US$ 858 juta tercatat 70 persennya dalam kurs yen Jepang dan 30 persen dalam dolar AS. PGN berada dalam posisi net cash dan rating yang dibatasi oleh pemegang saham mayoritas, negara Indonesia.


ISMI DAMAYANTI


Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Rupiah Loyo, Rating Industri Migas Masih Aman sekarang.

No comments:

Post a Comment