TEMPO.CO, Jakarta - Rupiah melanjutkan tren positifnya, merespon ekspektasi perlambatan pemangkasan stimulus moneter (tappering off) Amerika Serikat akibat rendahnya pertumbuhan jumlah tenaga kerja. Penguatan tersebut sejalan dengan tren mata uang regional yang juga cenderung menguat terhadap dolar.
Hingga pukul 13.00 WIB, rupiah terlihat menguat 119 poin (0,98 persen) ke level 12.043 per dolar. Tak jauh berbeda, Yen Jepang dan Yuan Cina juga bergerak naik masing-masing pada level 103,46 per dolar dan 6,045 per dolar.
Data pertumbuhan tenaga kerja AS di luar sektor pertanian (Non-Farming Employment Change) dilaporkan hanya tumbuh sebesar 74 ribu. Angka ini berbeda dengan ekspektasi sejumlah pihak yang memprediksi jumlahnya akan bertumbuh sebesar 196 ribu. Tak ayal, kenyataan tersebut akhirnya memunculkan keyakinan bahwa dukungan kebijakan stimulus moneter (Quantitative Easing) masih sangat dibutuhkan.
Analis PT. Samuel Sekuritas, Rangga Cipta mengatakan publikasi data ketenagakerjaan tersebut akhirnya membangun pesimisme pelaku pasar atas prospek perekonomian AS ke depan. Pertumbuhan tenaga kerja yang cukup rendah tersebut bahkan diperkirakan membuat nilai tappering off melambat. Meski demikian, ekspetasi tersebut memang harus menunggu jadwal pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC Meeting) yang akan dilaksanakan pada 28 – 29 Januari.
Dari dalam negeri, laju penguatan rupiah dipengaruhi oleh penerbitan peraturan implementasi Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba). Revisi atas beberapa ketentuan yang terdapat didalamnya, dinilai akan membuat ekspor hasil pertambangan tidak akan menurun secara signifikan.
MEGEL
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Rupiah Terus Menguat Siang Ini sekarang.
No comments:
Post a Comment