TEMPO.CO , Jakarta - Sentimen negatif yang terjadi di bursa global turut membawa tekanan jual pada aset-aset di pasar berkembang.
Di transaksi pasar uang hingga pukul 11.10 WIB, rupiah kembali terdepresiasi 31 poin ke level 12.191 per dolar Amerika Serikat (kurs Bloomberg).
Ekonom PT Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mengatakan kemungkinan pasar Asia terbawa sentimen negatif pelemahan Dow Jones semalam. "Untuk rupiah, kami perkirakan masih cukup stabil di antara level 12.100 hingga 12.200 per dolar AS."
Dari Amerika, pelaku pasar menanti data ketenagakerjaan yang menjadi landasan dilakukannya pemangkasan stimulus (tapering off). Per Desember lalu, orang yang mengajukan klaim sebagai penganggur turun menjadi 339 ribu. "Dengan turunnya klaim penganggur, kemungkinan data pengangguran di AS akan turun di bawah 7 persen."
Di dalam negeri, data neraca perdagangan tercatat surplus sebesar US$ 777 juta. Dari sisi ekspor ada perbaikan di ekspor non migas terutama ekspor mineral (batubara) dan CPO karena naiknya permintaan dari Cina dan India.
Di sisi impor, impor migas masih mencatat kenaikan 13 persen month-on-month tetapi impor non migas turun drastis. Dalam dua bulan terakhir ini neraca perdagangan sudah mencatat surplus dengan impor turun lebih besar dibandingkan ekspor.
"Penurunan impor ini bisa jadi karena mulai bekerjanya efek kenaikan BI rate sebesar 175 basis poin sejak Juni-November lalu, dan juga bisa karena pelemahan rupiah," ujar Lana.
PDAT | M. AZHAR
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Rupiah Melemah ke Level 12.191 sekarang.
No comments:
Post a Comment