TEMPO.CO , Semarang - Dinas Pertanian Kota Semarang mewaspadai peredaran sapi asal Kabupaten Boyolali, Sragen, Klaten, dan Pati, Provinsi Jawa Tengah. Alasannya, sejumlah daerah penghasil sapi itu dinilai pernah menjadi daerah endemik penyakit antraks.
“Kalau tak ada surat keterangan kesehatan dari pemerintah daerah setempat, kami tolak dan minta pedagang untuk mengembalikan,” kata Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Semarang, Aditiani, saat memeriksa kesehatan hewan ternak untuk kurban di Kelurahan Tlogosariwetan, Kecamatan Pedurungan, Semarang, Selasa, 8 Oktober 2013.
Aditiani menjelaskan, kewaspadaan itu berdasarkan hasil temuan penyakit antraks yang menyerang hewan sapi di sejumlah daerah pada 2012 lalu. Ia memastikan pedagang hewan kurban yang mendatangkan sapi dari sejumlah daerah itu tak bisa menjual sapinya bila tak dilampiri surat keterangan dari pengawas hewan. “Ini sesuai dengan peraturan daerah yang memberikan kewenangan pemeriksaan kesehatan asal ternak,” katanya.
Pemerintah Kota Semarang saat ini gencar melakukan pemeriksaan hewan ternak menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha. Langkah itu untuk menjaga agar masyarakat Kota Semarang tidak mengkonsumsi daging sapi yang tak sehat. Apalagi, menurut Aditiani, Kota Semarang tak punya peternakan besar sehingga harus mendatangkan hewan dari luar kota.
Sebelum pemotongan, mata dan nasfsu makan hewan kurban dicek secara fisik. “Kalau ada yang lesu, periksa temperatur badan. Hingga saat ini belum ada temuan,” katanya.
Pemerintah Kota Semarang menyiapkan 37 petugas pemeriksa hewan kurban yang mulai bekerja sejak tanggal 1 hingga 18 Oktober, yang disebar di setiap kecamatan. Sedangkan saat pemotongan hingga tiga hari pasca-Idul Adha, Pemerintah Kota Semarang menambah jumlah petugas pemeriksa hingga 55 orang untuk memeriksa daging setelah disembelih.
Basori, pemasok hewan kurban di Pedurungan, Kota Semarang, menyatakan tak mempersoalkan kewaspadaan Pemerintah Kota Semarang itu. Basori mengaku sapi yang dia datangkan berasal dari Kabupaten Kediri, Bojonegoro, Trenggalek, dan Purwodadi. “Itu pun masih dilengkapi surat keterangan kesehatan dari pemerintah daerah asal,” kata Basori.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi dan tanggapan dari otoritas maupun peternak sapi asal Kabupaten Boyolali, Sragen, Klaten, dan Pati atas kewaspadaan Pemerintah Kota Semarang tersebut.
EDI FAISOL (SEMARANG)
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Kota Semarang Waspadai Sapi Asal Boyolali sekarang.
No comments:
Post a Comment