TEMPO.CO , Jakarta - Consumer Sales Manager Symantec Indonesia, Rita Nurtika menyatakan kesadaran masyarakat Indonesia dalam melindungi perangkat bergeraknya masih minim. Indikator tersebut dia peroleh berdasarkan survei serta diskusi dengan beragam komunitas yang dilakukan di seluruh Indonesia.
"Bahkan kalangan bependidikan seperti mahasiswa dan pegawai pun kurang memperhatikan keamanan gadget," ujar Rita di Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2013.
Salah satu penyebab minimnya kesadaran yaitu kurangnya pemahaman terhadap kejahatan dunia maya (cyber crime), baik virus maupun peretasan. Dia mencontohkan, pengguna internet di Indonesia kerap tertarik dengan aplikasi yang sifatnya gratis.
"Sering kita jumpai, aplikasi atau game berlabel 'free' yang muncul melalui pop-up," ucap Rita. Label itu rupanya menjadi daya tarik bagi pengguna internet untuk kemudian membukanya. Padahal, bisa jadi ini merupakan bagian dari kejahatan dunia maya.
Kondisi ini diperparah dengan varian kejahatan dunia maya yang efeknya tidak langsung dirasakan oleh pengguna internet. "Cyber crime dulu dan sekarang berbeda," kata dia.
Rita menyebutkan, sebelumnya jika terkena virus, kinerja perangkat akan langsung menurun. Namun kini virus kadang kala baru terdeteksi setelah perangkat benar-benar tidak berfungsi. "Ini yang harus diwaspadai, karena orang tidak sadar oleh adanya cyber crime," katanya.
Adapun Product Marketing Manager for Consumer and Small Business Symantec Asia, Philip Routley menyatakan, secara global faktor yang melatar belakangi minimnya kesadaran, yaitu tingkat pendidikan pengguna internet yang tidak merata. "Tidak semua pelanggan broadband memiliki pendidikan tinggi," ucap dia.
Ia melanjutkan, masyarakat berpendidikan tinggi pun belum tentu sadar akan ancaman kejahatan dunia maya. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan buruk saat mengakses media sosial.
Dia menyebutkan berdasarkan Norton Report 2013 yang dihimpun dari 24 negara dengan 13 ribu responden. Sebanyak 39 persen responden tidak log out usai mengakses media sosial. Kemudian 25 persen responden membagi password akun media sosialnya ke orang terdekat. Selanjutnya, 31 persen responden berhubungan dengan orang tidak dikenal melalui media massa. Sedangkan 12 persen mengaku pernah menjadi korban peretasan.
Berkaca dari hal itu, Routley mengatakan pihaknya gencar melakukan sosialisasi serta kerja sama dengan mitra untuk membangun kesadaran masyarakat. "Kami melakukan sosialisasi mengenai perlindungan yang benar".
Routley menegaskan, produk antivirus yang ditawarkan Symantec tidak serta merta memblokir suatu aplikasi berbahaya. "Apa yang kami lakukan adalah memberikan perlindungan," ujarnya.
SATWIKA MOVEMENTI
Subcribe semua relasi yang berhubungan dengan Incar Gratisan, Keamanan Perangkat Terabaikan sekarang.
No comments:
Post a Comment